Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

Hasil Survei Dilakukan IAP, Inilah 7 Kota di Indonesia Ternyaman Untuk Ditinggali

Hasil Survei Dilakukan IAP, Inilah 7 Kota di Indonesia Ternyaman Untuk Ditinggali 
merdeka.com
Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) meliris daftar kota di Indonesia yang dianggap nyaman untuk ditinggali atau Indonesian Most Livable City Index 2014 oleh masyarakat.

Dari survei yang dilakukan IAP tersebut, ada tujuh kota yang memiliki nilai di atas rata-rata dan dianggap nyaman ditinggali. "Kota Balikpapan secara signifikan berada di atas rata-rata nasional untuk aspek tata kota dan pengelolaan lingkungan dibandingkan dengan kota lain," ujar Ketua Umum IAP Indonesia Bernardus Djonoputro, di Jakarta, Senin (11/8/2014).

Bernard menjelaskan bahwa survei ini murni persepsi masyarakat. Menurut dia, penentuan kota nyaman ini berdasarkan 27 indikator yang ditentukan sebelumnya. Sementara itu, jumlah responden dalam survei ini adalah 1.000 orang, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Survei ini memiliki margin of error sebesar 2 persen dan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Keberadaan indeks tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan pemeringkatan kota yang lebih baik, tetapi untuk mengukur kualitas kehidupan warga kota dan dimaksudkan untuk melakukan identifikasi awal faktor-faktor kritis pembangunan pada tiap-tiap kota berdasarkan persepsi warga.

Berikut adalah tujuh kota di Indonesia yang dianggap paling nyaman untuk ditinggali:
1. Balikpapan
2. Solo
3. Malang
4. Yogyakarta
5. Makassar
6. Palembang

7. Bandung

Sumber berita Kompas.com
Read more...

Senin, 11 Agustus 2014

Museum di Taiwan Ternyata Menyimpan Koleksi Wayang-Wayang Tua dari Indonesia

 Museum di Taiwan Ternyata Menyimpan Koleksi Wayang-Wayang Tua dari Indonesia
tokohwayangpurwa.wordpress.com
Sebuah museum swasta di Kota Taipei, Taiwan, menyimpan koleksi wayang kulit dan wayang golek asal Indonesia yang diperkirakan digunakan pada abad 19-20 Masehi.

Namun wayang yang sudah berusia seabad lebih itu, kata Direktur Museum Teater Wayang Lin Liu-Hsin Taiwan, Robin Ruizendaal kepada Antara di Taipei, Minggu (10/8/2014), tidak selalu dipamerkan, karena usianya yang sudah lama dan mulai rapuh sehingga hanya dipamerkan untuk acara-acara tertentu.

Ia mengatakan, wayang kulit, wayang golek dan boneka sigale-gale yang dimilikinya merupakan hasil pencarian pihak museum, di antaranya didapatkan di Perancis dan Belanda. "Mungkin di Indonesia jarang memilikinya. Tapi orang Eropa yang nenek moyangnya pernah di Indonesia, mereka masih menyimpannya. Karena itu beberapa wayang di antaranya ada yang dibeli atau memang diserahkan pewarisnya untuk disimpan di museum," katanya sambil menunjukkan bentuk wayang buto cakil yang diperkirakan dari abad 19.

Museum yang berada di tengah kota itu juga memiliki simpanan koleksi wayang-wayang tua, baik yang terbuat dari kulit hewan maupun bentuk boneka (golek) itu didapatkan dari berbagai negara, di antaranya Tiongkok, Indonesia, Vietnam, Thailand, Kamboja, Nigeria, Turki, dan Taiwan sendiri.

"Jumlah keseluruhan koleksi museum ini lebih dari 10 ribu buah," kata Robin yang berasal dari Den Haag, Belanda, dan sudah hampir 20 tahun menetap di Taipei.

Selain memamerkan wayang-wayang, museum ini juga menyediakan ruang panggung teater pertunjukan wayang, untuk wayang golek tradisional asal Taiwan di lantai empat gedung museum. Menurut Robin, yang sering datang ke teater tidak hanya para turis, tetapi anak-anak sekolah dasar juga sering mendatanginya.

"Dinas Pendidikan Kota Taipei mewajibkan murid-murid SD untuk menonton wayang tradisional di sini. Setahun bisa dua kali, dan tiketnya dibayarkan Dinas Pendidikan. Hal ini menyenangkan kita, tidak hanya dari segi bisnis tetapi pertunjukan tradisional dihargai pemerintah dan warganya, sehingga dikenal para murid. Bahkan dinas pernah melakukan survei, ternyata pertunjukan wayang di sini menempati posisi tertinggi yang disukai murid-murid dibanding lainnya," jelas Robin.

Robin yang merupakan doktor sinologi itu sering memberi ceramah dan melakukan pertunjukan tidak hanya di Taiwan, tetapi juga sering diundang berbagai negara, termasuk Tiongkok, Vietnam dan Indonesia.

Sumber berita Kompas.com
Read more...

Kamis, 07 Agustus 2014

Ingin Mengunjungi Situs Warisan Budaya Dunia, ini 8 Diantaranya Rekomendasi UNESCO

Ingin Mengunjungi  Situs Warisan Budaya Dunia, ini 8 Diantaranya Rekomendasi UNESCO
commons.wikimedia.org

Daftar situs warisan budaya dunia dari UNESCO bisa menjadi panduan destinasi wisata yang patut Anda kunjungi. Ada sekitar 1.000 situs yang masuk dalam daftar tersebut, termasuk Candi Borobudur.

Bahkan tahun lalu, sebuah situs wisata, VeryFirstTo.com, menawarkan paket perjalanan mewah berupa ekspedisi ke 962 situs warisan budaya UNESCO. Perjalanan ini disebut-sebut sebagai liburan termahal di dunia. Sebab, peminatnya mesti merogoh kocek sebesar 1,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 17,5 milyar.

Berikut beberapa di antara situs-situs warisan dunia tersebut. Situs yang dipilih berada di benua Asia dan Australia yang secara jarak dekat dengan Indonesia.

1. Angkor, Kamboja. Situs ini berada 20 menit naik tuk-tuk dari kota Siem Reap. Pengunjung banyak yang datang di antara bulan November dan Februari, ketika cuacanya sedang kering dan suhunya paling dingin.

2. Bagan, Myanmar. Berlokasi di barat pusat Myanmar, Bagan dapat didatangi menggunakan pesawat, bus, dan kereta dari Yangon. Akomodasi terpusat di desa sekitar New Bagan dan Nyaung Oo.

3. Taman Nasional Goreme National Park dan Situs Batu Cappadocia, Turki. Karena situs ini begitu terpencil di pusat Anatolia, kebanyakan pengunjung memilih terbang dari Istanbul untuk mengunjungi area dengan paket tur atau menyetir. Akomodasi di sini berupa hotel yang dibuat dari batu.

4. Great Barrier Reef, Australia. Kepulauan ini bisa diakses dengan penerbangan dari daratan Australia. Bisa juga datang melalui tur sehari dari utara pelabuhan Queensland termasuk Cairns dan Port Douglas.

5. Hampi, India. Hampi dilayani oleh bus semalaman dari Goa. Kereta berjalan ke Hospet yang dekat dari Chennai, Mumbai, Bangalore, Delhi, dan Kalkuta. Pengunjung akan menemukan penginapan bagus dengan harga menengah bawah di sekeliling Desa Hampi.

6. Petra, Yordania. Bus dan paket tur seharian berjalan dari ibu kota Yordania, Amman, serta kota pelabuhan Aqaba. Dapat juga mengatur tur dari Mesir. Jika ingin menginap lebih lama, menginaplah di Wadi Musa, kota tetangga Petra.

7. Piramid Giza, Mesir. Hanya 25 kilometer barat daya Kairo sepanjang sungai Nil. Kompleks ini sangat mudah dikunjungi menggunakan perjalanan sehari dari ibu kota Mesir.

8. Sigiriya, Srilangka. Situs pusat Srilangka berlokasi dua sampai tiga jam dengan bus lokal dari kota Kandy (melalui Dambulla, rumah dari  kompleks candi gua besar). Dapat juga mengatur tur atau supir pribadi dari Kandy.

Sumber berita Kompas.com
Read more...

Rabu, 06 Agustus 2014

Facebook in the Library: Enhancing Services and Engaging Users

alastore.ala.org
Facebook in the Library: Enhancing Services and Engaging Users (ALA TechSource Workshop)
By David Lee King
Item Number: 1541-8862
 
Publisher: ALA TechSource    
Price: $50.00
 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
If you plan on viewing this event with a group of 3 or more people, please purchase at the group rate.

A 90-minute workshop, Wednesday, September 17, 2014 at 2:30pm Eastern/1:30pm Central/12:30pm Mountain/11:30am Pacific


This is an online event hosted through Webex. Further technical information is available at the ALA TechSource FAQ page.

How Workshop Registration Works
While completing your purchase, you’ll be asked to fill in the name and e-mail address of the person attending this event. Once you complete your purchase, the attendee will receive an e-mail from Webex confirming registration. This e-mail includes the login information for the event, including the weblink for signing in to the event, so please keep it in a safe place.

If you prefer to register by phone, call 1-770-280-4185, Monday–Friday, 8:00am–6:00pm Eastern to register; or email your purchase order to editionscoursehelp@ala.org.

For pricing on bulk registrations in excess of $1,000, please contact us.

ALA TechSource Workshops offer a convenient, hands-on learning experience that will help you and your colleagues make the best technology decisions for your library. Your registration includes recommended readings to enhance your learning and support focused discussion in chat. This ALA TechSource Workshop is licensed for use by staff or users of the purchasing institution or library organization.
Facebook in the Library: Enhancing Services and Engaging Users (ALA TechSource Workshop)
A 90-minute workshop, Wednesday, September 17, 2014 at 2:30pm Eastern/1:30pm Central/12:30pm Mountain/11:30am Pacific

Around 154 million Americans—51 percent of the population—are now using Facebook, according to a recent study by Edison Research. How effectively are you using this direct, free means of communication to reach out to your library’s patrons and users? Digital branch and social networking innovator David Lee King will share what he’s learned from years of experience and experiments with the Topeka and Shawnee County’s Facebook page. He will answer your questions and share time-saving tips on getting the most out of using Facebook.

Topics include:
  • Fundamentals for setting up and managing your Facebook page
  • Planning content for your library Facebook page
  • How to engage the library’s Facebook fans
  • How to market your library through a Facebook page

About the Instructor

David Lee King is the Digital Branch and Services Manager at the Topeka and Shawnee County (Kansas) Public Library, where he plans, implements, and experiments with emerging technology trends. He speaks internationally and writes about emerging trends, website usability and management, digital experience planning, and managing tech staff. David was named a Library Journal "Mover and Shaker" for 2008 and recently published his first book, Designing the Digital Experience. David writes the “Internet Spotlight” column in Public Libraries magazine with Michael Porter and blogs.


Sumber: www.alastore.ala.org

Read more...

Selasa, 05 Agustus 2014

Sertifikasi Pustakawan

Sertifikasi Pustakawan
sulistyobasuki.wordpress.com
Pendahuluan
Sertifikat yang diserap dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Latin Pertengahan certificatum, bahasa Latin Akhir certificatus artinya memperkuat, menandai. Sertifikasi artinya penyertifikasian atau pemberian sertifikatKamus Besar Bahasa Indonesia, ed 4, 2010).
Menyangkut pustakawan, sertifikasi disebutkan dalam beberapa produk perundang-undangan walaupun tidak langsung seperti UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang pelaksanaan UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, keputusan Kepala Perpustakaan Nasional RI.
Sertifikasi kompetensi kerja adalah proses pemberian sertifikasi kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan atau internasional. Standar internasional yang digunakan antara lain preoduk ISO (International Standardization Organisation) yang diadopsi dalam bahasa Indonesia.

Latar belakang
Standar kompetensi dibuat karena alasan:
  1. Adanya sikap rasa rendah diri baik diakui maupun tidak di kalangan tenaga kerja Indonesia bila dibandingkan dengan tenaga kerja dari luar. Rasa rendah diri itu berpengfaruh terhadap daya saing di dunia kerja. Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa kinerja pustakawan Indonesia yang berijasah setara, mjialnya lulusan program magister dari dalam neegri tidak kalah dengan lulusan setara dari luar begeri seperti dari Malaysia, Filipina maupun India.
  2. Kemajuan teknologi yang pesat, terutama di bidang teknologi informasi (TI) atau juga disebut teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengharuskan pustakawan mengikuti perkembangan dan mampu mendayagunakannya
  3. Persiapan menghadapi ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 2015 dan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
  4. Kemampuan bersaing tenaga pustakawan Indonesia keluar negeri, setidak-tidaknya dilingkungan Asean. Bagi pustakawan Indonesia lulusan Indonesia yang bekerja di luar Aean seperti Australia, Canada, Amerika Serikat mereka haru memperoleh gelar master’s degree dari lembaga pendidikan tinggi yang diakui oleh organisasdi profesi. Untuk Indonesia, lembaga pendidikan pascasarjana masih diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional dan belum ada kesepakatan menyangkut kompetensinya
Hal serupa juga terjadi di bidang lain misalnya tenaga keperawatan yang dikirim keluar negeri seperti Timur Tengah, Eropa Barat dan Amerika Utara harus memiliki sertifikasi yang setara dengan negara tempat dia akan bekerja.
Kompetensi
Kompetensi adalah kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap kerja yang dapat teramati dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang diterapkanAda tiga jenis kompetensi kerja pustakawan yaitu kompetensi umum, kompetensi inti dan kompetensi khusus. Kompetensi ini pada saat ini masaih ditujukan untuk pustakawan lulusan sarjana (strata 1).
Kompetensi umum adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap pustakawan untuk melakukant tugas perpustakaan. Kompetensi ini meliputi:
  1. Mengoperasikan komputer tingkat dasar
  2. Menyusun rencana kerja
  3. Membuat laporan kerja perpustakaan.
Kompetensi ini sangat mendasar sehingga kompetensi itu melekat pada kompetensi inti dan kompetensi khusus. Adapun kompetensi inti mencakup :
  1. Melakukan seleksi bahan perpustakaan
  2. Melakukan pengadaan bahan perpustakaan
  3. Melakukan pengatalogan deskriptif
  4. Melakukan pengatalogan subjek
  5. Melakukan perawatan bahan perpustakaan
  6. Melakukan layanan sirkulasi
  7. Melakukan layanan referensi
  8. Melakukan pe4nelusuran informasi sederhana
  9. Melakukan promosi perpustakaan
  10. Melakukan kegiatan literasi informasi
  11. Memanfaatkan jaringan Internet untuk layanan perpustakaan
Ad 1. Seleksi bahan perpustakaan dilakukan dengan menggunakan alat bantu seleksi seperti bibliografi, direktori dan senarai/daftar sambung jaring (online lists).(Johnson, 2014) Dalam praktik pustakawan masih menggunakan katalog penerbit padahal katalog penerbit hanya memberikan daftar terbitannya tanpa ada timbangan buku yang objektif.
Ad 2. Pengadaan bahan perpustakaan untuk terbitan Indonesia relatif mudah dilakukan; yang agak sulit menyangkut terbitan luar negeri. Lazimnya dilakukan melalui agen. Menyangkut sumber daya elektronik yang ditawarkan aggregator seperti ProQuest, Ebsco, Emerald dan lain-lain sedikit menimbulkan kesulitan menyangkut pertanggungajawaban keuangan mengingat yang dilanggan ialah jurnal elektronik, lalu yang diberikan pada perpustakaan hanya nomor identifikasi dan password yang berubah setiap bulan. Dari segi pemeriksaan seperti oleh BPKB, Inspektur Jenderal, mereka berpegang pada pedoman formal yang menyatakan bahwa bila melanggan jurnal maka harus ada bukti fisiknya. Sampai sekarang hal ini masih belum terpecahkan.
Ad 3. Melakukan pengatalogan deskriptif relatif mudah dilakukan selama ada koneksi Internet sehingga pustakawan tidak perlu lagi melakukan pengataalogan asli seperti yang sudah-sudah. Untuk buku terbitan seluruh dunia termasuk terbitan Indonesia, pustakawan dapat mengakses Library of Congress Online Catalog atauWorldCat OCLC, kedua-duanya dapat diakses, dapat diunduh data bibliografisnya baik dalam bentuk katalog maupun format MARC. Gambar 1 menunjukan hasil unduhan sebuah terbitan Indonesia, beserta ruas MARCnya.
00000975nam a2200301 a 4500
0011631931
00519960118175800.1
008951102s1994 io a b 001 0 ind
010__ |a  95940144
020__ |a 9795144308
035__ |9 (DLC) 95940144
040__ |a DLC  |c DLC
042__ |a lcode
043__ |a a-io—
05000 |a Z845.I6  |b B37 1994
1001_ |a Basuki, Sulistyo.
24510 |a Periodisasi perpustakaan Indonesia /  |c Sulistyo-Basuki.
250__ |a Cet. 1.
260__ |a Bandung :  |b Remaja Rosdakarya,  |c 1994.
300__ |a xiv, 268 p. :  |b ill. ;  |c 24 cm.
504__ |a Includes bibliographical references and index.
520__ |a History of the development of libraries and library services in Indonesia.
650_0 |a Libraries  |z Indonesia  |x History.
906__ |a 7  |b cbc  |c origode  |d 3  |e ncip  |f 19  |g y-gencatlg
922__ |a ap
955__ |a wj04/wj02; yk02 01-03-96; yk12 01-04-96
Gambar 1 Format MARC
Keberadaan data bibliografi tadi memudahkan pustakwan dalam mengatalog dan memasukkan data ke system perpustakaan terpadu.
Ad 4. Melakukan pengatalogan subjek.
Untuk pustakawan Indonesia, tajuk subjek yang digunakan dapat berupa Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional (Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2012)Library of Congress Subject Headings (lazim disingkat LCSH) terbitan Library of Congress, Bila menggunakan LCSH, sangat nyaman karena tajuk subjek yang ada di Library of Congress Online Catalog adalah tajuk dari LCSH. Pada gambar 1, pada ruas 650 tertera tajuk subjek yang diambil dari LCSH.
Pada Keputusan Menteri (Indonesia, 2012) disebutkan standar pengatalogan deskriptif menurut AACR2 ataupun RDA.. RDA singkatan dari Resource Description and Access, merupakan deskripsi yang mencakup bahan cetak, multimedia, digital dan maya (virtual) menggantikan AACR2 (2002). Antara AACR2 dengan RDA terdapat perbedaan signifikan yang perlu dipahami pustakwan sebelum mengikuti kompetensi profesi (Tabel 1). Juga dalam deskripsi ada perbedaan maknawi antara AACR2 dengan RDA (Tabel 2)

Tabel 1. Perbedaan menyangkut ruang lingkup
AACR2RDA
Deskripsi berdasarkan pada:
Elemen ISBD
Kelas   material
Modus penerbitan
Tipe deskripsiDeskripsi berdasarkan:
Atribut entitas FRBR
Tipe konten dan wahana (carrier)
Modus pengeluaran
Tipe deskripsiAkses berdasarkan
Pilihan titik akses
Bentuk tajuk
RujukanAkses berdasarkan
Hubungan FRBR
Atribut entitas FRAD
Hubungan FRAD
Hubungan subjek

Tabel 2. Beda deskripsi antara AACR2 dengan RDA
RDA menggunakan istilah baru, menggantikan istilah yang telah lazim untuk pustakawan. Istilah baru ini berasal dari model Functional Requirements dan International Cataloguing Principles
AACR2RDA
DaerahElemen
TajukTitik akses yang diberi wewenang
Entri utamaTitik akses yang diberi wewenang untuk kreator + judul kesukaan (preferred title)
Pengarang, komponis, dsbKreator
Rujukan lihatBerbagai titik akses
Rujukan lihat jugaTitik akses yang diberi wewenang
Entri tambahanTitik akses
Deskripsi fisikDeskripsi wahana (carrier)
Sumber utamaSumber preferensi (preferred sources)
Judul seragamJudul preferensi + informasi lain untuk membedakan; judul kolektif konvensional
CatatanMendesrkipsi konten atau mencatat hubungan
GMDDigantikan oleh:
Tipe media’
Tipe wahana
Tipe konten

Tabel 3 Perbandingan pengatalogan AACR2 dengan RDA
KeteranganKonten AACR2Konten RDACatatan
Judul sebenarnyaSome of my pomes [sic]Some of my pomes
Judul varian: Some of my poemsAda kesalahan judul, pomes seharusnya ditulis poemBreakfast at the red bruck [i.e. brick] houseBreakfast at the red bruck house
Judul varian: Breakfast at the red brick house Pernyataan tanggungjawabby Harry Chaplinby Harry Chaplin, JrTidak lagi menggunakan Peraturan 3 pengarangby Harry Pinkwaterby Dr Barry PinkwaterBy Cornelius Snap… [et al[By Dr Cornelius Snap, Michael Crackle, Robert Pop,Jr and Rice KrispiesPernyataan edisi3rd ed.
Halaman juduk tertera Third editionThird edition Halaman juduk tertera Third edition
Penerbitan,   distributor, dsbLondon; New York

Halaman judul tertera: London, Montreal,New YorkLondon; Montreal; New York
Halaman judul tertera: London, Montreal,New York  [S.l.]:
[s.n.].
[ca. 1960]Tempat penerbitan tidak diketahui
Penerbit tidak diketahui
Tahun terbitan tidak diketahui Deskripsi fisik[32] p.32 halaman tidak bernomor atau
Sekitar 32 halaman atau
1 volume (tanpa nomor)  Illustrasi 19 cm.19 cm.
Sumber: Hart (2010) dengan ubahan oleh penulis
Pada Keputusan Menteri (Indonesia, 2012) disebut juga tentang metadata serta istilah Dublin Core. Metadata adalah data tersruktur, terkode yang mendeskripsi karakteristik entitas yang memuat informasi untuk membantu identifikassi, penemuan, asesmen, dan manajemen entitas yang dideskripsi ((Association for Library Collections & Technical Services 2000).
Salah satu himpunan deskripsi elemen metadata itu adalah Dublin core (http://purl.org/metadata/dublin_core) yang dikembangkan oleh OCLC yang berpusat di Dublin, Ohio. Dublin core menentukan 15 elemen metadata berupa:
  1. Judul
  2. Kreator atau pencipta atau pembuat
  3. Subjek (katakunci, kosakata teekendali dan klasifikasi)
  4. Deskripsi (abstrak dan deskripsi isi)
  5. Penerbit
  6. Kontributor (terkecuali creator )
  7. Tahun
  8. Tipe (kategori sumber)
  9. Format (HTML, Postscript)
  10. Pengenal atau identifier (URL, untaian atau nomor yang digunakan untuk mengenali sumber)
  11. Sumber (dari mana asal usul sumber daya)
  12. Bahasa
  13. Hubungan atau kaitannya dengan sumber daya lain
  14. Cakupan (spasial dan atau karakteristik sumber daya)
  15. Hak (hubungannya dengan pemberitahuan hak cipta)

Tabel 4.  Himpunan Elemen Metadata Dublin Core
ElemenDefinisiKeterangan
JudulNama yang diberikan pada sumber dayaLazimnya, Judul merupakan nama sumber daya lazim dikenal
KreatorEntitas (maujud) yang bertanggung jawab atas penciptaan sumber dayaContoh Kreator ialah orang, organisasi atau   sebuah jasa. Lazimnya nama Kreator digunakan untuk menunjukkan entitas
SubjekTopik sumber dayaLazimnya, topic diwujudkan dalam bentuk kata kunci,frasa utama,atau kode klasifikasi. Praktik terbaik yang disarankan ialah menggunakan kosakata terkendali. Untuk mendeskripsi topikspasial atau sementara sumber daya, gunakan elemen Cakupan
DeskripsiUraian sumber dayaDeskripsi dapat mencakupo namun tidak terbatas pada sebuah abstrak, daftarisi, representasi geografis atau penjelasan sumber daya dalam bahasa bebas.
PenerbitEntitas yang bertanggung jawab penyediaan sumber daya atau sumber daya tersediaContoh Penerbit ialah orang, organisasi atau sebuah jasa, Lazimnya nama Penerbit hendaknya digunakan untuk menunjukkan entitas.
KontributorEntitas yang bertanggung awas atas kontribusinya pada sumber dayaContoh Kontributor termasuk orang, organisasi atau sebuah jasa. Lazimnya nama Kontributor digunakan untuk menunjukkan entitas.
TahunSatu titik atau periode waktu yang diasosiasikan dengan sebuah peristiwa dalamdaur hidup sumber dayaTahun dapat digunakan untuk mengungkapkan informasi sementara pada setiap aras (level0 granuralitas (keberbutiran,granularity). Praktik terbaik yang disarabnkan adalah menggunakan skema pengawasandi (encoding) seperti profil W3CDTF dari ISO 8601 (W3CDTF)
TipeCiri atau genre sumber dayaPraktik terbaik yang disarabnkan ialahmenggunakan kosakata terkendali seperti DCMI Type Vocabuklary [DCMITYPE]. Untuk mendeskripsi format berkas, media fisikatau dimensi sumber daya, gunakan elemen Format
FormatFormat berkas, media fisik atau dimensi sumber dayaContoh dimensi termasuk ukuran, besaran dan durasi. Praktik terbaik yang disarabkan ialah menggunakan kosakata terkendali
PengenalRujukan taktaksa atau takambigu ke sumber daya dalam konteks tertentuPraktik terbaik yang disarankan ialah mengenali sumber daya dengan menggunakan untaian (string) yang sesuai dengan system identifikasi formal
SumberSummber yang digunakan untuk mendeskripsi sumber dayaSumber yang dideskripsi dapat berasal dari sumber daya yang bertautan secara keseluruhan atau sebahagian. Praktik terbaik yang disarankan ialah mengenali sumber terkait dengan menggunakan untaian (string) yang sesuai dengan sistem identifikasi formal
BahasaBahasa sumber dayaPraktik terbaik yang disarankan ialahmenggunakan kosakata terkendali
HubunganSumber daya terkaitPraktik terbaik yang disarankan ialah mengenali sumber daya berkaitan dengan cara menggunakan untaian (string) yang sesuai dengan system identifikasi formal
CakupanTopik spasial atau sementara sumberr daya, keterterapanspasial dari sumber daya atau jurisidksi yang relevan dengan sumber dayaTopik spasial dan keterterapan spasial dapat berupa   nama tempat atau lokasi yang dinyatakan koordinat geografisnya. Topik sementara dapat berupa nama periode, tahun, atau julatan (range) tahun.
HakInformasi tentang hak yang ada pada dan mengenai sumber dayaLazimnya, informasi mengenai hak mencakup pernyataan tentang berbagai hak miliki yang diasosiasikan dengan sumber daya, termasuk hak kekayaan intelektual.
Keputusan Menteri (2012) juga menyebut kemampuan klasifikasi. Untuk keperluan klasifikasi pustakawan dapat menggunakan Dewey Decimal Classification (kini ed 22), Dewey Decimal Classification dalam Bahasa Indonesia (sudah diterjemahkan oleh Perpustakaan Nasional) atau Universal Decimal Classification (UDC) edisi singkat (dalam proses penerbitan oleh Perpustakaan Nasional) atau versi medium
Ad 5. Melakukan perawatan bahan perpustakaan
Ad 6. Melakukan layanan sirkulasi. Kompetensi ini relatif mudah, baik pada system manual maupun terotomasi.
Ad 7. Melakukan layanan referensi
Di Indonesia kebiasaan menggunakan jasa referensi oleh pemakai (pemustaka) relatif sangat sedikit, termasuk juga di lingkungan perpustakaan universitas, padahal di negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura, jasa referensi benar-benar dimanfaatkan oleh pemakai. Keputusan (Indonesia, 2012) tidak merinci layanan referensi. Secara teoritis, layanan referensi (Cassell and Hiremath, 2011) untuk menjawab berbagai pertanyaan seperti:
  1. Menjawab pertanyaan mengenai buku, majalah, surat kabar, perpustakaan dan penerbitan serta jaringan bibliografis. Lazimnya terdapat pada sumber daya bibliografis
  2. Menjawab pertanyaan mengenai apa saja, jawaban pada ensiklopedia
  3. Menjawab pertanyaan mengenai yang mensyaratkan fakta langsung tersedi, jawabannya ada pada sumber referensi yang ada.
  4. Menjawab pertanyaan mengenai mengenai kata, sumber pada kamus
  5. Menjawab pertanyaan mengenai peristiwa dan ise, terdapat indeks utama yang digunakan dalam tugas referensi.
  6. Menjawab pertanyaan mengenai kesehatan, hukum, dan bisnis; jaweaban paa panduan dan sumber khusus.
  7. Menjawab pertanyaan mengenai geografi, negara dan perjalanan; jawaban pada atlas, gazetir, peta, sistem informasi geografis dan panduan wisata.
  8. Menjawab pertanyaan mengenai kehidupan orang-orang; gunakan sumber informasi biografi
  9. Menjawab pertanyaan mengenai pemerintahan; gunakan sumber informasi pemerintah. Untuk kabupaten semacam Tulungagung dapat ditemukan pada terbitan pemerintah daerah walaupun dalam kenyataan sulit memperoleh terbitan sejenisnya.
Ad 8.   Melakukan penelusuran informasi sederhana
Biasanya pustakawan mampu melakukannya, juga menggunakan mesin pencari seperti Google dan Yahoo. Dalam praktik pustakawan haru mampu menggunakan operator Boole dalam pencarian informasi.Yang sedikit sulit ialah memilah dan menyaring informasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Ad 9.   Melakukan promosi perpustakaan, dilakukan dengan berbagai metode dan cara.

Ruang lingkup dan metode uji
Ruang lingkup uji kompetensi meliputi unit kompetnsi sesuai dengan kerangka kualifikasi profesi pustakawan sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Hal ini dibagi menjadi:
A.  Kompetensi umum meliputi :
  • Mengoperasikan komputer tingkat dasar
  • Menyusun rencana kerja perpustakaan
  • Membuat lapotan kerja perpustakaan
Kompetensi ini melekat (embedded) dalam kompetensi inti dan khusus.
B.  Kompetensi ini yang mencakup:
   B1. Kompetensi inti pada pustakwan professional di bidang layanan perpustakaan dasar mencakup:
  • Melakukan layanan sirkulasi
  • Melakukan layanan referensi
  • Melakukan penelusuran informasi sederhana
  • Melakukan promosi perpustakaan
  • Melakukan kegiatan literasi informasi
  • Memanfaatkan jaringan internet untuk layanan perpustakaan
   B2. Kompetensi inti pada pustakwan professional di bidang pengolahan bahan perpustakaan dasar mencakup:
  • Melakukan pengatalogan deskripsi
  • Melakukan pengatalogan subjek
   B3. Kompetensi inti pada pustakawan profesional di bidang pengembangan koleksi dasar terdiri dari:
  • Melakukan seleksi bahan perpustakaan
  • Melakukan pengadaan bahan perpustakaan
   B4. Kompetensi inti pada pustakawan profesional di bidang pelestarian bahan perpustakaan dasar terdiri dari:
  • Melakukan perawatan bahan perpustakaan dasar.
C. Kompetensi khusus yang meliputi :
   C1. Kompetensi khusus pada pustakawan profesional di bidang pelestarian bahan perpustakaan dasar berupa:
  • Melakukan perbaikan bahan perpustakaan
   C2. Kompetensi khusus pada pustakawan profesional di bidang keahlian:
  • Pembuatan dan pengemasan literatur sekunder
  • Melakukan penelusuran informasi kompleks
  • Merancang tata ruang dan perabot perpustakaan
  • Membuat karya tulis ilmiah
Sebagai sebuah tes kompetensi, maka sertifikasi pustakawan mensyaratkan berbagai metode uji. Secara umum ada metode untuk asesmen sebagaimana akan diuraikan di bawah ini.
Metode yang digunakan untuk melakukan asesmen kompetensi umum mencakup: sasaran sesuai dengan parameter yang ada. Adapun asesmen menyangkut kinerja dikaitkan dengan lingkungan pemakai.
  1. Wawancara
  2. Aktivitas praktik. Karena perlu praktik maka ini setiap LSP diwajibkan memiliki ruangan ujian yang mampu menampung sedikit-dikitnya 30 peserta uji.
  3. Demonstrasi
  4. Tes tertulis
Asesmen kompetensi ini meliputi:
  1. Wawancara
  2. Aktivitas praktik
  3. Demonstrasi
  4. Tes tertulis
Asesmen bagi kompetensi khusus mencakup:
  1. Wawancara
  2. Aktivitas praktik
  3. Demonstrasi
  4. Tes tertulis
  5. Portofolio

Siapa yang berhak meperoleh sertifikasi
Menurut informasi, sertifikasi pada saat ini masih terbatas pada tataran S1 atau sarjana ilmu perpustakaan atau sarjana lulusan diklat yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional. Karena masih dalam taraf percobaan, saat ini baru tercatat 100 uji sertifikasi itupun masih di kota Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Padang.
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)
LSP merupakan lembaga pelaksana uji kompetensi dan sertifikasi kompetensi yang telah diakreditasi dan mendapat lisensi dari Badan Nasional Standardisasi Profesi (BSNP). Sampai makalah ini ditulis, baru ada satu LSP yang diakreditasi oleh Perpustakaan Nasional, sementara ini berlokasi gedung D Perpustakaan Nasional diketuai oleh Dra. Endang Ernawati, M.Lib. Bagi mereka yang hendak memperoleh sertifikasi dipersilakan menghubung LSP yang sementara berdomisili di Jakarta.

Hambatan sertifikasi
Karena sifatnya baru maka sertifikasi pustakawan masih menghadapi hambatan seperti:
  1. Kesulitan pendirian LSP karena sebuah LSP mensyaratkan adanya tenaga asesor, ketersediaan gedung termasuk ruangan yang mampu menampung sedikit-dikitnya 30 orang untuk uji. kompetensi. Kelengapan lain ialah perangkat keras dan perangkat lunak seperti komputer, buku DDC.
  2. Pembiayaan operasional LSP. Secara teoritis, LSP harus mandiri, terlepas dari lembaga pemerintahan sehingga hasilnya benar-benar mandiri.
  3. Ketersediaan perangkat uji seperti perangkat keras, perangkat lunak.
  4. Masih terbatas pada tataran sarjana.
  5. Keterbatasan tenaga asesor.

Hak dan kewajiban
Seorang pemegang sertifikat berhak:
  1. Mendapatkan angka kredit
  2. Mendapatkan perpanjangan masa berlaku sertifikai untuk satu periode yaitu 3 tahun selama dia masih bekerja di tempat yang sesuai dengan sertifikast kompetensinya.
  3. Diharapkan mendapat prioritas untuk mengikuti kegiatan pengembangan profesi dan pendidikan serta pelatihan.
Adapun kewajiban pemegang sertifikat:
  1. Menjunjung tinggi kode etik pustakawan. Kode etik ini telah dimutakhirkan oleh Ikatan Pustakawan Indonesia dalam kongresnya di Palembang tahun 2012.
  2. Memenuhi ketentuan skema sertifikasi profesi
  3. Memahami bahwa sertifkasi profesinya hanya berlaku sesuai dengan kewenangan serta ketentuan sertifikasi
  4. Melaksanakan kegiatan kepustakawanan sesuai dengan kualifikasinya.

Kompensasi sertifikasi
Semula setrtifikasi pustakawan dimaksudkan meniru sertifikasi guru dan dosen, berdasarkan undang-undang memperoleh tunjangan profgesi sebesar 1 bulan gaji. Namun usulan tunjangan profesi bagi pustakawan ditolak oleh Kementerian Keuangan; adapun imbalannya akan dicakup dalam program Refiormasi Birokrasi (RB) yang masih digodog. Maka dengan penjelasan itu nyata bahwa sertifikasi profesi pustakawan masih berkutat untuk pustakawan Pegawai Negeri Sipil (PNS),
Keberhasilan sertifikasi pustakwan tidak berkaitan dengan kenaikan tunjangan profesi melainkan perolehan sebagai angka kredit. Dengan demikian lebih banyak manfaatnya bagi pustakawan yang mengambil jalur jabatan fungsional pustakawan dan ini berarti pustakawan yang bekerja sebagai PNS. Untuk pustakawan swasta rasanya masih lama (Sulistyo, 2014)
Bila selama waktu tertentu uji kompetenasi dilakukan oleh LSP di bawah panduan Perpustakaan Nasional, pada masa mendatang direncanakan keikutsertaan asosiasi profesi seperti Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), asosiasi pustakawan lain seperti ATPUSI, Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII). dan Forum Perpustakaan yang didirikan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Walaupun ada empat forum perpustakaan binaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dalam praktik hanya dua yang menonjol yaitu Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) sereta Forum Perpustakaan Sekolah Indonesia (FPSI) yang banyak berhubungan dengan Kementerian Pendidikan Nasional.
Penutup
Keberadaan sertifikasi pustakawan dilatarbelakangi oleh berbagai produk perundang-undangan serta perkembangan kewilayan antara lain pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Keberadaan MEA memungkinkan tenaga professional dari negara lain memasuki Indonesia sereta tenaga Indonesia memasuki pasar di ASEAN. Untuk menjaga keserasian antara tempat bekerja dengan kemampuan yang dimiliki maka dibuatlah sertifikasi pustakawan.
Sertifikasi ini saat ini masih terbatas pada pustakawan beregelar Sarjana Ilmu Pepustakaan dan sarjana lain bidang yang lulus pendidikan selama 628 jam. Sertifikasi pustakawan dilakukan oleh Lembaga sertifikasi Profesi, saat ini baru satu lembaga dan ada di Jakarta. Diharapkan semakin banyak LSP serta pendekatan yang lebih erat dengan pemangku kepentingan seperti Perpustakaan Nasional RI, asosiasi profesi, forum perpustakaan dan lembaga pendidikan formal.
Bibliografi
Cassell, Kay Ann and Uma Hiremath. 2011. Reference and Information Services in the 21st Century: an Introduction. New York: Neal-Schuman.
Hart, Amy. 2010. The RDA Primer: a Guide for the Occasional Cataloger. Santa Barbara,California: Linworth.
Indonesia. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2012. Keputusan Menetri Nomor 83 tahun 2012 tentang penetapan rancangan standar kompetensi kerja nasional Indonesia sector jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya: bidang perpustakaan menjadi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia.Jakarta Perpustakaan Nasional.
Indonesia. 2007. [Undang-Undang, Peraturan,dsb] Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Indonesia. 2014. [Undang-Undang, peraturan,dsb] Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Johnson, Peggy. 2014. Fundamentals of Collection Development and Management. 3rd ed. Chicago : American Library Association.
Sulistyo-Basuki. 2013. Tinjauan teoritis Resource Description and Access (RDA) Makalah untuk Koordinasi Persiapan Pelaksaan Resource Description & Access, Jakarta, 17 Oktober 2013.
Sulistyo-Basuki. 2014. Pola Pembinaan Pustakawan Swasta. Makalah untuk Diskusi Pembinaan Pustakawan Swasta, diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIIPI) di Jakarta, 21 Mei 2014.
Sumber :sulistyobasuki.wordpress.com
Read more...

Kamis, 24 April 2014

Revisi Perpres No.71 Tahun 2012 ttg Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan

Revisi Perpres No.71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
birohukum.pu.go.id
Peraturan Presiden (Perpres) No. 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan. Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum direvisi oleh pemerintah. Tujuannya agar proses pembebasan lahan untuk kepentingan umum bisa lebih cepat.

Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Hendarman Supandji mengatakan, revisi tersebut berlaku untuk pasal 120 dan 121 Perpres No 71 tahun 2012. Misalnya, sebelum direvisi pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang luasnya tidak lebih dari 1 hektar dapat dilakukan langsung oleh instansi (investor) yang memerlukan tanah dengan para pemegang hak. Namun setelah direvisi, proses pembebasan langsung berlaku untuk lahan yang lebih luas yaitu hingga 5 hektar.

"Poinnya lahan yang 1 hektar bisa dilakukan pembebasan langsung tidak melalui panitia sekarang dinaikkan jadi 5 hektar," kata Hendarman di Istana Negara, Kamis (24/4/2014)

Menurutnya dengan cara pembebasan lahan langsung, bisa lebih cepat sehingga suatu proyek infrastruktur bisa segera selesai. Sebelumnya harus ada panitia pembebasan lahan dan proses lainnya. "Kalau dahulu kan ada 4 tahap toh. Tahapnya perencanaan dulu, persiapan dengan pemerintah daerah, izin lokasi," katanya.

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2012 juga mengatur patokan maksimal untuk pembebasan lahan paling lama (maksimal) 583 hari. Perpres ini mengatur tata cara pengadaan tanah untuk kepentingan umum dari tahapan perencanaan, tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan, sampai dengan penyerahan hasil.

Perpres ini merupakan sebagai pelaksanaan amanat Pasal 53 dan Pasal 59 UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

Sumber berita DetikFinance
Read more...