Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Agustus 2014

Hasil Survei Dilakukan IAP, Inilah 7 Kota di Indonesia Ternyaman Untuk Ditinggali

Hasil Survei Dilakukan IAP, Inilah 7 Kota di Indonesia Ternyaman Untuk Ditinggali 
merdeka.com
Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) meliris daftar kota di Indonesia yang dianggap nyaman untuk ditinggali atau Indonesian Most Livable City Index 2014 oleh masyarakat.

Dari survei yang dilakukan IAP tersebut, ada tujuh kota yang memiliki nilai di atas rata-rata dan dianggap nyaman ditinggali. "Kota Balikpapan secara signifikan berada di atas rata-rata nasional untuk aspek tata kota dan pengelolaan lingkungan dibandingkan dengan kota lain," ujar Ketua Umum IAP Indonesia Bernardus Djonoputro, di Jakarta, Senin (11/8/2014).

Bernard menjelaskan bahwa survei ini murni persepsi masyarakat. Menurut dia, penentuan kota nyaman ini berdasarkan 27 indikator yang ditentukan sebelumnya. Sementara itu, jumlah responden dalam survei ini adalah 1.000 orang, yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Survei ini memiliki margin of error sebesar 2 persen dan dilaksanakan pada tahun 2014 ini. Keberadaan indeks tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan pemeringkatan kota yang lebih baik, tetapi untuk mengukur kualitas kehidupan warga kota dan dimaksudkan untuk melakukan identifikasi awal faktor-faktor kritis pembangunan pada tiap-tiap kota berdasarkan persepsi warga.

Berikut adalah tujuh kota di Indonesia yang dianggap paling nyaman untuk ditinggali:
1. Balikpapan
2. Solo
3. Malang
4. Yogyakarta
5. Makassar
6. Palembang

7. Bandung

Sumber berita Kompas.com
Read more...

Senin, 11 Agustus 2014

Museum di Taiwan Ternyata Menyimpan Koleksi Wayang-Wayang Tua dari Indonesia

 Museum di Taiwan Ternyata Menyimpan Koleksi Wayang-Wayang Tua dari Indonesia
tokohwayangpurwa.wordpress.com
Sebuah museum swasta di Kota Taipei, Taiwan, menyimpan koleksi wayang kulit dan wayang golek asal Indonesia yang diperkirakan digunakan pada abad 19-20 Masehi.

Namun wayang yang sudah berusia seabad lebih itu, kata Direktur Museum Teater Wayang Lin Liu-Hsin Taiwan, Robin Ruizendaal kepada Antara di Taipei, Minggu (10/8/2014), tidak selalu dipamerkan, karena usianya yang sudah lama dan mulai rapuh sehingga hanya dipamerkan untuk acara-acara tertentu.

Ia mengatakan, wayang kulit, wayang golek dan boneka sigale-gale yang dimilikinya merupakan hasil pencarian pihak museum, di antaranya didapatkan di Perancis dan Belanda. "Mungkin di Indonesia jarang memilikinya. Tapi orang Eropa yang nenek moyangnya pernah di Indonesia, mereka masih menyimpannya. Karena itu beberapa wayang di antaranya ada yang dibeli atau memang diserahkan pewarisnya untuk disimpan di museum," katanya sambil menunjukkan bentuk wayang buto cakil yang diperkirakan dari abad 19.

Museum yang berada di tengah kota itu juga memiliki simpanan koleksi wayang-wayang tua, baik yang terbuat dari kulit hewan maupun bentuk boneka (golek) itu didapatkan dari berbagai negara, di antaranya Tiongkok, Indonesia, Vietnam, Thailand, Kamboja, Nigeria, Turki, dan Taiwan sendiri.

"Jumlah keseluruhan koleksi museum ini lebih dari 10 ribu buah," kata Robin yang berasal dari Den Haag, Belanda, dan sudah hampir 20 tahun menetap di Taipei.

Selain memamerkan wayang-wayang, museum ini juga menyediakan ruang panggung teater pertunjukan wayang, untuk wayang golek tradisional asal Taiwan di lantai empat gedung museum. Menurut Robin, yang sering datang ke teater tidak hanya para turis, tetapi anak-anak sekolah dasar juga sering mendatanginya.

"Dinas Pendidikan Kota Taipei mewajibkan murid-murid SD untuk menonton wayang tradisional di sini. Setahun bisa dua kali, dan tiketnya dibayarkan Dinas Pendidikan. Hal ini menyenangkan kita, tidak hanya dari segi bisnis tetapi pertunjukan tradisional dihargai pemerintah dan warganya, sehingga dikenal para murid. Bahkan dinas pernah melakukan survei, ternyata pertunjukan wayang di sini menempati posisi tertinggi yang disukai murid-murid dibanding lainnya," jelas Robin.

Robin yang merupakan doktor sinologi itu sering memberi ceramah dan melakukan pertunjukan tidak hanya di Taiwan, tetapi juga sering diundang berbagai negara, termasuk Tiongkok, Vietnam dan Indonesia.

Sumber berita Kompas.com
Read more...

Sabtu, 15 Maret 2014

Ratu Boko Temple: Klaten, Central Java, Indonesia

 Ratu Boko Temple: Klaten, Central Java, Indonesia
 
wikimedia commons
Ratu Boko is an archaeological site known to modern Javanese as Kraton Ratu Boko or Ratu Boko's Palace. Ratu Boko is located on a plateau, about three kilometres south of Lara Jonggrang Prambanan temple complex in Yogyakarta Indonesia. The original name of this site is still unclear, however the local inhabitants named this site after King Boko, the legendary king mentioned in Loro Jonggrang folklore.
The site covers 16 hectares in two hamlets (Dawung and Sambireja) of the village of Bokoharjo and Prambanan, Sleman Regency. In striking contrast to other Classic-period sites in Central Java and Yogyakarta, which are remains of temples, Ratu Boko displays attributes of an occupation or settlement site, although its precise functions is unknown. Probably the site was a palace complex which belongs to the kings of Sailendra or Mataram Kingdom that also build temples scattered across Prambanan Plain. The argument was based on the fact that this complex was not a temple nor building with religious nature, but a fortified palace instead which evidence in the remnant of fortified walls and the dry moat as defensive structures.The remains of settlements also founds in Ratu Boko vicinity. This site is located 196 m above the sea level, on the highest point in the site, there is a small pavilion from which one will be able to see a panoramic view of Prambanan temple with Mount Merapi as the background.

At Ratu Boko, traces of probable secular structures were erected on a plateau divided into terraces separated from each other by stone walls and stone-faced ramparts (talud). The site was reached by a steep path up the northwest slope of the plateau, in the direction of Prambanan. The structural remains in the terrace at Ratu Boko site consist of places with folk names connected with palaces such as paseban (reception pavilion), pendopo (audience hall) and kaputren (women's quarter). A pool complex lies on a terrace adjoining the east side of the pendopo. A group of artificial caves, probably for meditation, lies to the north, isolated from the rest of the site. These archaeological sites are.

The first of three terraces is reached through a massive gateway built on two levels. On the western edge of this terrace is a high talud of soft white limestone. The second terrace, separated from the first by andesite wall, is reached through a gateway in paduraksa form consisting of three doors, a larger central one flanked by two of lesser dimensions. The third terrace, the largest, contains the richest concentrations of archaeological remains. Another talud and andesite wall separate the third terrace from the second terrace, with another connecting gateway of paduraksa form, this time consisting of five doors, again the central one having larger dimensions than the two which flank it.
It is read on the main gate Panabwara that was written by Rakai Panabwara, descendant of Rakai Panangkaran. He carved his name there in order to legitimate his authority of this palace.

King Boko is a legendary character known from popular folklore of Loro Jonggrang. This folklore connects the Ratu Boko Palace, the Durga statue in Prambanan temple (which is identified by local folklore as Loro Jonggrang), and the origin of the Sewu temple complex nearby. Prince Bandung Bondowoso loved Princess Loro Jonggrang, the daughter of King Boko, but she rejected his proposal of marriage because Bandung Bondowoso had killed King Boko and ruled her kingdom. Bandung Bondowoso insisted on the union, and finally Loro Jonggrang was forced to agree for a union in marriage, but she posed one condition: Bandung must build her a thousand temples in one night. He entered into meditation and conjured up a multitude of spirits (genies or demons) from the earth. They succeeded in building 999 temples. Loro Jonggrang then woke her palace maids and ordered them to begin pounding rice. This awoke the roosters, which began to crow. The genies, hearing the sound of morning, believed the sun was about to rise and so disappeared back into the ground. Thus the prince was fooled, in revenge he cursed the princess and turned her into a stone statue. According to the traditions, she is the image of Durga in the north cell of the Shiva temple at Prambanan, which is still known as Loro Jonggrang or Slender Virgin.

Get There. The closest cities to  Prambanan, are either Yogyakarta or Semarang and Solo. Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines and a number of domestic airlines fly to these cities from Jakarta and other large cities in Indonesia. AirAsia is the first international airline that flies direct from Kuala Lumpur to Yogyakarta. From Yogyakarta and Solo, you can rent a car to go to Klaten or reguler bus.
Read more...

Candi Ratu Baka : Klaten, Jawa Tengah Indonesia

Candi Ratu Baka : Klaten, Jawa Tengah Indonesia
wikimedia commons

Situs Ratu Baka (Bahasa Jawa: Candhi Ratu Baka) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25 ha.
Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs pemukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini.
Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (Bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan.
Secara administratif, situs ini berada di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200 m di atas permukaan laut.
Situs ini dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.

 Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Bukit ini sendiri merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu, yang membentang dari selatan Yogyakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton.
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Baka. Dalam prasasti ini menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746-784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara ("wihara di bukit yang bebas dari bahaya"). Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha. Namun demikian ditemukan pula unsur–unsur agama Hindu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.
Tampaknya, kompleks ini kemudian diubah menjadi keraton dilengkapi benteng pertahanan bagi raja bawahan (vassal) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Menurut prasasti Siwagrha tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra. Bangunan di atas bukit ini dijadikan kubu pertahanan dalam pertempuran perebutan kekuasaan di kemudian hari.
Di dalam kompleks ini terdapat bekas gapura, ruang Paseban, kolam, Pendopo, Pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi.


Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.
Berbeda pula dengan keraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai, situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Ini membuat kompleks bangunan ini relatif lebih sulit dibangun dari sudut pengadaan tenaga kerja dan bahan bangunan. Terkecuali tentu apabila bahan bangunan utamanya, yaitu batu, diambil dari wilayah bukit ini sendiri. Ini tentunya mensyaratkan terlatihnya para pekerja di dalam mengolah bukit batu menjadi bongkahan yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan.
Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini; sisanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksinya.
Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan.
Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut "tempat kremasi". Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama "tempat kremasi" menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut. Sangat boleh jadi perlu dipertimbangkan untuk menyelidiki tempat ini sebagai semacam altar atau tempat sesajen.
 
Kota-kota terdekat ke Candi Ratu Boko, adalah Yogyakarta atau Semarang, dan Solo.  Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines dan sejumlah maskapai penerbangan domestik terbang ke kota-kota ini dari Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. AirAsia merupakan maskapai internasional pertama yang terbang langsung dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta an Solo. Dari Yogyakarta dan Solo, anda dapat menyewa mobil untuk pergi ke Klaten atau bis reguler antar kota dalam propinsi.

Sumber: wikipedia.org
Read more...

Candi Prambanan: Jawa Tengah, Indonesia

Candi Prambanan: Jawa Tengah, Indonesia
wikimedia commons

Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.
Kompleks candi ini terletak di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten, [1] kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.[2] Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten.
Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.[3] Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.
Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, di masa kerajaan Medang Mataram.

Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari istilah teologi Hindu Para Brahman yang bermakna "Brahman Agung" yaitu Brahman atau realitas abadi tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan, yang kerap disamakan dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu. Pendapat lain menganggap Para Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama "Prambanan" berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat.
Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa Sansekerta; Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856 Masehi). Trimurti dimuliakan dalam kompleks candi ini dengan tiga candi utamanya memuliakan Brahma, Siwa, dan Wisnu. Akan tetapi Siwa Mahadewa yang menempati ruang utama di candi Siwa adalah dewa yang paling dimuliakan dalam kompleks candi ini.

Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda. Candi ini menarik perhatian dunia ketika pada masa pendudukan Britania atas Jawa. Ketika itu Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, menemukan candi ini. Meskipun Sir Thomas kemudian memerintahkan penyelidikan lebih lanjut, reruntuhan candi ini tetap terlantar hingga berpuluh-puluh tahun. Penggalian tak serius dilakukan sepanjang 1880-an yang sayangnya malah menyuburkan praktek penjarahan ukiran dan batu candi. Kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa saat kemudian Isaäc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Arca-arca dan relief candi diambil oleh warga Belanda dan dijadikan hiasan taman, sementara warga pribumi menggunakan batu candi untuk bahan bangunan dan pondasi rumah.

Pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:
  1. 3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma
  2. 3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa
  3. 2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan
  4. 4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti
  5. 4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti
  6. 224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68
Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan. (id.wikimedia.org).

Akses menuju Candi prambanan, dari jogja bisa menggunakan Bus way dengan tarif Rp.3000, langsung turun halte di lokasi candi Prambanan. jika naik angkutan pribadi dari jogja ke timur terus, arah ke kota klaten, perjalanan dari jogja sekita 45 menit, candi ini terletak di utara jalan. selamat jalan menikmati wisata candi Prambanan.
 

Read more...

Kamis, 13 Maret 2014

Prambanan Temple, Central Java Indonesia

 Prambanan Temple, Central Java Indonesia
 
wikimedia commons
Candi Prambanan or Candi Rara Jonggrang is a 9th-century Hindu temple compound in Central Java, Indonesia, dedicated to the Trimurti, the expression of God as the Creator (Brahma), the Preserver (Vishnu) and the Destroyer (Shiva). The temple compound is located approximately 17 kilometres (11 mi) northeast of the city of Yogyakarta on the boundary between Central Java and Yogyakarta provinces.
The temple compound, a UNESCO World Heritage Site, is the largest Hindu temple site in Indonesia, and one of the biggest in Southeast Asia. It is characterized by its tall and pointed architecture, typical of Hindu temple architecture, and by the towering 47-metre-high (154 ft) central building inside a large complex of individual temples. Prambanan attracts many visitors from across the world.

The present name of the temple, Prambanan', was derived from the name of Prambanan village where the temple stood, this name probably being the corrupted Javanese pronunciation of "Para Brahman" ("The Supreme Brahman"). It is also possible Prambanan comes from Javanese root '(e)mban' which means carries a duty, reflecting gods role in the world, or the villagers duty in relation to the temple. Comparable with parahyangan (western part of Java island), comes from the root hyang, means god, or (e)yang, means ancestor in Javanese.

Prambanan is the largest Hindu temple of ancient Java, and the construction of this royal temple was probably started by Rakai Pikatan as the Hindu Sanjaya Dynasty's answer to the Buddhist Sailendra Dynasty's Borobudur and Sewu temples nearby. Historians suggest that the construction of Prambanan probably was meant to mark the return of the Hindu Sanjaya Dynasty to power in Central Java after almost a century of Buddhist Sailendra Dynasty domination. Nevertheless, the construction of this massive Hindu temple signifies that the Medang court had shifted the focus of its patronage from Mahayana Buddhism to Shivaist Hinduism.
A temple was first built at the site around 850 CE by Rakai Pikatan and expanded extensively by King Lokapala and Balitung Maha Sambu the Sanjaya king of the Mataram Kingdom. According to the Shivagrha inscription of 856 CE, the temple was built to honor Lord Shiva and its original name was Shiva-grha (the House of Shiva) or Shiva-laya (the Realm of Shiva). According to Shivagrha inscription, a public water project to change the course of a river near Shivagrha Temple was conducted during the construction of the temple. The river, identified as the Opak River, now runs north to south on the western side of the Prambanan temple compound. Historians suggest that originally the river was curved further to east and was deemed too near to the main temple. The project was done by cutting the river along a north to south axis along the outer wall of the Shivagrha Temple compound. The former river course was filled in and made level to create a wider space for the temple expansion, the space for rows of pervara (complementary) temples.
Some archaeologists propose that the statue of Shiva in the garbhagriha (central chamber) of the main temple was modelled after King Balitung, serving as a depiction of his deified self after death.
The temple compound was expanded by successive Mataram kings such as Daksa and Tulodong with the addition of hundreds of perwara temples around the chief temple. Prambanan served as the royal temple of the Kingdom of Mataram, with most of the state's religious ceremonies and sacrifices being conducted there. At the height of kingdom, scholars estimate that hundreds of brahmins with their disciples lived within the outer wall of the temple compound. The urban center and the court of Mataram were located nearby, somewhere in the Prambanan Plain.


wikimedia commons
Originally there were a total of 240 temples standing in Prambanan. The Prambanan Temple Compound consist of:
  1. 3 Trimurti temples: three main temples dedicated to Shiva, Visnu, and Brahma
  2. 3 Vahana temples: three temples in front of Trimurti temples dedicated to the vahana of each gods; Nandi, Garuda, and Hamsa
  3. 2 Apit temples: two temples located between the rows of Trimurti and Vahana temples on north and south side
  4. 4 Kelir temples: four small shrines located on 4 cardinal directions right beyond the 4 main gates of inner zone
  5. 4 Patok temples: four small shrines located on 4 corners of inner zone
  6. 224 Pervara temples: hundreds of temples arranged in 4 concentric square rows; numbers of temples from inner row to outer row are: 44, 52, 60, and 68
The Prambanan compound also known as Rara Jonggrang complex, named after the popular legend of Rara Jonggrang. There were once 240 temples stood in this Shivaite temple complex, either big or small. Today, all of 8 main temples and 8 small shrines in inner zone are reconstructed, but only 2 out of the original 224 pervara temples are renovated. The majority of them have deteriorated; what is left are only scattered stones. The Prambanan temple complex consists of three zones; first the outer zone, second the middle zone that contains hundreds of small temples, and third the holiest inner zone that contains eight main temples and eight small shrines.
The Hindu temple complex at Prambanan is based on a square plan that contains a total of three zone yards, each of which is surrounded by four walls pierced by four large gates. The outer zone is a large space marked by a rectangular wall. The outermost walled perimieter, which originally measured about 390 metres per side, was oriented in the northeast, southwest direction. However, except for its southern gate, not much else of this enclosure has survived down to the present. The original function is unknown; possibilities are that it was a sacred park, or priests' boarding school (ashram). The supporting buildings for the temple complex were made from organic material; as a consequence no remains occur.

Get There. The closest cities to  Prambanan, are either Yogyakarta or Semarang. Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines and a number of domestic airlines fly to these cities from Jakarta and other large cities in Indonesia. AirAsia is the first international airline that flies direct from Kuala Lumpur to Yogyakarta. From Yogyakarta, you can rent a car to go to Klaten.
Sumber wikipedia.org

Read more...

Senin, 10 Maret 2014

Candi Borobudur: Jawa Tengah, Indonesia

Candi Borobudur: Jawa Tengah, Indonesia
wikimedia commons

Candi dalam Bahasa Indonesia, adalah bangunan keagamaan purbakala; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas, meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa" karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba". Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.
Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.
Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.
Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Sumber:id.wikipedia.org
Read more...

BOROBUDUR TEMPLE

BOROBUDUR TEMPLE 
 
wikimedia commons

The world's largest Buddhist temple which is one of the masterpieces among the Seven Wonders of the World is located in the Borobudur Village, Borobudur district, approximatelly ± 3 km from Mungkid city. Borobudur was built by King Samaratungga, one of the kings of Ancient Mataram Kingdom, from the descendant of Wangsa Syailendra. Based on the Kayumwungan inscription, an Indonesian named Hudaya Kandahjaya revealed that Borobudur is a place of worship which was completely built on May 26th, 824 almost a hundred years since they first started the construction. According to several sources the name of “Borobudur” means as a mountain with terraces (budhara), while others says that it means monastery located on the high ground.

Borobudur temple was designed as staircase consistsing of 10 levels. Before Borobudur was renovated, the height of the temple was 42 meters and 34.5 meters after the reconstruction because the lowest level functioned as a barrier after being renovated. The six lowest square and top three circle and one of the highest levels of Buddhist stupa is facing to the West. Each level represents the stages of human life. In accordance with Mahayana Buddhism teaching, every person who wants to reach the level as the Buddha must passed through every level of human life. Kamadhatu, the lowest part of Borobudur (basement) symbolizing human beings that are bound by lust. Whereas the other four levels above referred as Rupadhatu who symbolizes the ability of humanbeing to break free from his/her lust yet bound with manner and human form itself. On this terrace, the statue of Buddha is placed in an open space. Meanwhile, the other three levels above where the Buddhist stupas are laid in holes is called Arupadhatu, symbolizing humanbeing who has been freed from lust, appearance, and human form. The highest part is called Arupa symbolizes nirvana, where Buddha is residing. 
Sumber:central-java-tourism.com
Read more...