Selasa, 09 Desember 2014

Epub Hikayat MahaRaja Ali Online

Epub Hikayat MahaRaja Ali Online

http://opac.pnri.go.id/DetaliListOpac.aspx?pDataItem=0010-0814001127&pType=Bibid&pLembarkerja=-1

perpusnas.go.id 
Hikayat MahaRaja Ali Online adalah buku digital   dalam format EPUB dan  FlipBooks yang ditampilkan dalam format 3D yang bisa dibuka-buka (flipping). Silahkan Klik gambar bukunya untuk langsung terhubung dengan file onlinenya (digital). Untuk baca ebook lainnya Klik Ebook. PC baca file EPUB dapat Unduh Drivernya dihttp://www.epubread.com/en/
Untuk Smartphone dapat unduh drivernya di Play Store (UB epub reader).

"Naskah kuno yang akan dijadikan objek transliterasi adalah naskah Melayu yang berjudul Hikayat Maharaja Ali, yang selanjutnya disebut HMA. HMA terdapat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dalam Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep. P&K, HMA terdapat empat versi. HMAversi pertama bernomor ML. 638 A (dari W. 106 A), versi kedua bernomor ML. 640 (dari W. 107), versi ketiga bernomor ML. 641 (dari W.108), dan versi keempat bernomor ML. 198 A. Sebelumnya, HMA pernah diteliti oleh Catharina Sumantri, Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Indonesia dengan kajian kritik naskah dan perbandingan antara HMAdan Hikayat Jumjumah.

Berikut adalah ringkasan cerita naskah HMA secara keseluruhan:

Tersebutlah seorang raja di dalam Bidakara (dalam naskah W107, W108, ML 198A tidak disebutkan nama negerinya) yang sangat besar kerajaannya, yaitu Maharaja Ali (dalam naskah W107 dan W 108 bernama Raja Ali Badasyah). Sudah bertahun-tahun Maharaja Ali berharap mendapatkan putra yang nantinya akan menjadi pewaris kerajaannya. Namun, Allah Subhanahu Wata‟alaa belum juga memberinya putra. Kemudian, Maharaja Ali mengumpulkan seluruh menteri hulubalang untuk bertemu para peramal dengan tujuan untuk mengetahui (meramal) apakah Maharaja Ali akan dikaruniai putra atau tidak. Para peramal memberitahukan bahwa Maharaja Ali akan memperoleh tiga putra. Maharaja Ali sangat bahagia mendengar ramalan itu. Akan tetapi, menurut para peramal, putra Maharaja Ali yang pertama akan membawa bencana bagi negerinya. Hal itu tentu saja membuat Maharaja Ali bersedih.

Tidak lama kemudian, istri Maharaja Ali, Putri Haynan, hamil. Sebagaimana yang diramalkan, Maharaja Ali dikaruniai tiga orang putra: Bahrum Syah, Tahir Syah dan Indra Syah. Ramalan bahwa anak pertama Maharaja Ali akan membawa bencana, terbukti kebenarannya. Bahrum Syah memiliki sifat dan perangai yang tidak baik. Pada suatu waktu raja dipaksa oleh rakyatnya supaya turun tahta dan meninggalkan kerajaannya. Dalam perjalanan meninggalkan negerinya, Maharaja Ali dirampok habis-habisan dan putranya yang tertua hilang. Mereka tiba di kota Babistan dan hidup sangat menderita hingga harus meminta sedekah kepada Raja Sardal. Raja Sardal sangat tertarik hatinya melihat paras Putri Haynan.

Raja Sardal lalu menyekap Putri Haynan untuk dijadikan istrinya. Ketika Raja Sardal hendak melaksanakan niatnya, mendadak ia jadi lumpuh. Sementara itu, Maharaja Ali mengembara bersama dua orang putranya. Waktu menyeberangi sungai, Raja Ali dimakan buaya dan kedua putranya dipungut (diasuh) oleh tukang tambang. Roh Raja Ali yang selalu gentayangan akhirnya bertemu dengan Nabi Isa. Dengan mukjizat Nabi Isa, Raja Ali hidup lagi dan tetap akan menjadi raja tanpa dikenal oleh siapa pun dan disuruh pulang ke tanah asalnya yang ia sendiri sudah lupa.

Dalam perjalanan pulang, ia dibekali beberapa mukjizat dan pengetahuan tentang pengobatan yang sangat manjur, sehingga ia menjadi terkenal di mana-mana. Mendengar ada seorang raja yang bisa mengobati segala macam penyakit, Raja Sardal (dalam naskah W107 bernama Raja Tholam, W108 bernama Raja Zubir) segera berkunjung ke negeri Maharaja Ali. Ia berharap Maharaja Ali bisa menyembuhkan penyakitnya. Di sinilah keluarga Maharaja Ali berkumpul kembali. Kedua orang putranya yang diasuh oleh penambang, putra yang tertua (yang hilang) akhirnya bertemu juga dengan ayahnya. Istri Maharaja Ali, Putri Haynan, mengenali suaminya, sehingga mereka dapat berkumpul kembali.

Akhirnya, Maharaja Ali beserta istri dan ketiga putranya hidup bahagia di istananya, di negeri Bidakara." sumber;perpusnas.go.id (
 Hikayat MahaRaja Ali)