Tampilkan postingan dengan label Klaten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Klaten. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Maret 2014

Ratu Boko Temple: Klaten, Central Java, Indonesia

 Ratu Boko Temple: Klaten, Central Java, Indonesia
 
wikimedia commons
Ratu Boko is an archaeological site known to modern Javanese as Kraton Ratu Boko or Ratu Boko's Palace. Ratu Boko is located on a plateau, about three kilometres south of Lara Jonggrang Prambanan temple complex in Yogyakarta Indonesia. The original name of this site is still unclear, however the local inhabitants named this site after King Boko, the legendary king mentioned in Loro Jonggrang folklore.
The site covers 16 hectares in two hamlets (Dawung and Sambireja) of the village of Bokoharjo and Prambanan, Sleman Regency. In striking contrast to other Classic-period sites in Central Java and Yogyakarta, which are remains of temples, Ratu Boko displays attributes of an occupation or settlement site, although its precise functions is unknown. Probably the site was a palace complex which belongs to the kings of Sailendra or Mataram Kingdom that also build temples scattered across Prambanan Plain. The argument was based on the fact that this complex was not a temple nor building with religious nature, but a fortified palace instead which evidence in the remnant of fortified walls and the dry moat as defensive structures.The remains of settlements also founds in Ratu Boko vicinity. This site is located 196 m above the sea level, on the highest point in the site, there is a small pavilion from which one will be able to see a panoramic view of Prambanan temple with Mount Merapi as the background.

At Ratu Boko, traces of probable secular structures were erected on a plateau divided into terraces separated from each other by stone walls and stone-faced ramparts (talud). The site was reached by a steep path up the northwest slope of the plateau, in the direction of Prambanan. The structural remains in the terrace at Ratu Boko site consist of places with folk names connected with palaces such as paseban (reception pavilion), pendopo (audience hall) and kaputren (women's quarter). A pool complex lies on a terrace adjoining the east side of the pendopo. A group of artificial caves, probably for meditation, lies to the north, isolated from the rest of the site. These archaeological sites are.

The first of three terraces is reached through a massive gateway built on two levels. On the western edge of this terrace is a high talud of soft white limestone. The second terrace, separated from the first by andesite wall, is reached through a gateway in paduraksa form consisting of three doors, a larger central one flanked by two of lesser dimensions. The third terrace, the largest, contains the richest concentrations of archaeological remains. Another talud and andesite wall separate the third terrace from the second terrace, with another connecting gateway of paduraksa form, this time consisting of five doors, again the central one having larger dimensions than the two which flank it.
It is read on the main gate Panabwara that was written by Rakai Panabwara, descendant of Rakai Panangkaran. He carved his name there in order to legitimate his authority of this palace.

King Boko is a legendary character known from popular folklore of Loro Jonggrang. This folklore connects the Ratu Boko Palace, the Durga statue in Prambanan temple (which is identified by local folklore as Loro Jonggrang), and the origin of the Sewu temple complex nearby. Prince Bandung Bondowoso loved Princess Loro Jonggrang, the daughter of King Boko, but she rejected his proposal of marriage because Bandung Bondowoso had killed King Boko and ruled her kingdom. Bandung Bondowoso insisted on the union, and finally Loro Jonggrang was forced to agree for a union in marriage, but she posed one condition: Bandung must build her a thousand temples in one night. He entered into meditation and conjured up a multitude of spirits (genies or demons) from the earth. They succeeded in building 999 temples. Loro Jonggrang then woke her palace maids and ordered them to begin pounding rice. This awoke the roosters, which began to crow. The genies, hearing the sound of morning, believed the sun was about to rise and so disappeared back into the ground. Thus the prince was fooled, in revenge he cursed the princess and turned her into a stone statue. According to the traditions, she is the image of Durga in the north cell of the Shiva temple at Prambanan, which is still known as Loro Jonggrang or Slender Virgin.

Get There. The closest cities to  Prambanan, are either Yogyakarta or Semarang and Solo. Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines and a number of domestic airlines fly to these cities from Jakarta and other large cities in Indonesia. AirAsia is the first international airline that flies direct from Kuala Lumpur to Yogyakarta. From Yogyakarta and Solo, you can rent a car to go to Klaten or reguler bus.
Read more...

Candi Ratu Baka : Klaten, Jawa Tengah Indonesia

Candi Ratu Baka : Klaten, Jawa Tengah Indonesia
wikimedia commons

Situs Ratu Baka (Bahasa Jawa: Candhi Ratu Baka) adalah situs purbakala yang merupakan kompleks sejumlah sisa bangunan yang berada kira-kira 3 km di sebelah selatan dari komplek Candi Prambanan, 18 km sebelah timur Kota Yogyakarta atau 50 km barat daya Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Luas keseluruhan komplek adalah sekitar 25 ha.
Situs ini menampilkan atribut sebagai tempat berkegiatan atau situs pemukiman, namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke-8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Dilihat dari pola peletakan sisa-sisa bangunan, diduga kuat situs ini merupakan bekas keraton (istana raja). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Sisa-sisa permukiman penduduk juga ditemukan di sekitar lokasi situs ini.
Nama "Ratu Baka" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Baka (Bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada komplek Candi Prambanan.
Secara administratif, situs ini berada di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta dan terletak pada ketinggian hampir 200 m di atas permukaan laut.
Situs ini dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan Situs Warisan Dunia sejak tahun 1995.

 Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Bukit ini sendiri merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu, yang membentang dari selatan Yogyakarta hingga daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton.
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Baka. Dalam prasasti ini menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746-784 M), serta menyebut suatu kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara ("wihara di bukit yang bebas dari bahaya"). Rakai Panangkaran mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani Buddha. Namun demikian ditemukan pula unsur–unsur agama Hindu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.
Tampaknya, kompleks ini kemudian diubah menjadi keraton dilengkapi benteng pertahanan bagi raja bawahan (vassal) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Menurut prasasti Siwagrha tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra. Bangunan di atas bukit ini dijadikan kubu pertahanan dalam pertempuran perebutan kekuasaan di kemudian hari.
Di dalam kompleks ini terdapat bekas gapura, ruang Paseban, kolam, Pendopo, Pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi.


Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung.
Berbeda pula dengan keraton lain di Jawa yang umumnya didirikan di daerah yang relatif landai, situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi. Ini membuat kompleks bangunan ini relatif lebih sulit dibangun dari sudut pengadaan tenaga kerja dan bahan bangunan. Terkecuali tentu apabila bahan bangunan utamanya, yaitu batu, diambil dari wilayah bukit ini sendiri. Ini tentunya mensyaratkan terlatihnya para pekerja di dalam mengolah bukit batu menjadi bongkahan yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan.
Kedudukan di atas bukit ini juga mensyaratkan adanya mata air dan adanya sistem pengaturan air yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kolam pemandian merupakan peninggalan dari sistem pengaturan ini; sisanya merupakan tantangan bagi para arkeolog untuk merekonstruksinya.
Posisi di atas bukit juga memberikan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah bagi para penghuninya, selain tentu saja membuat kompleks ini lebih sulit untuk diserang lawan.
Keistimewaan lain dari situs ini adalah adanya tempat di sebelah kiri gapura yang sekarang biasa disebut "tempat kremasi". Mengingat ukuran dan posisinya, tidak pelak lagi ini merupakan tempat untuk memperlihatkan sesuatu atau suatu kegiatan. Pemberian nama "tempat kremasi" menyiratkan harus adanya kegiatan kremasi rutin di tempat ini yang perlu diteliti lebih lanjut. Sangat boleh jadi perlu dipertimbangkan untuk menyelidiki tempat ini sebagai semacam altar atau tempat sesajen.
 
Kota-kota terdekat ke Candi Ratu Boko, adalah Yogyakarta atau Semarang, dan Solo.  Garuda Indonesia, Mandala, Merpati Nusantara Airlines dan sejumlah maskapai penerbangan domestik terbang ke kota-kota ini dari Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. AirAsia merupakan maskapai internasional pertama yang terbang langsung dari Kuala Lumpur ke Yogyakarta an Solo. Dari Yogyakarta dan Solo, anda dapat menyewa mobil untuk pergi ke Klaten atau bis reguler antar kota dalam propinsi.

Sumber: wikipedia.org
Read more...