Selasa, 09 Desember 2014

Epub Kumpulan Cerita Wayang Versi Pecenongan Online

Epub Kumpulan Cerita Wayang Versi Pecenongan Online
perpusnas.go.id
Kumpulan Cerita Wayang Versi Pecenongan  Online adalah buku digital   dalam format EPUB dan  FlipBooks yang ditampilkan dalam format 3D yang bisa dibuka-buka (flipping). Silahkan Klik gambar bukunya untuk langsung terhubung dengan file onlinenya (digital). Untuk baca ebook lainnya Klik Ebook.
PC baca file EPUB dapat Unduh Drivernya dihttp://www.epubread.com/en/
Untuk Smartphone dapat unduh drivernya di Play Store (UB epub reader).

"“Kesenian wayang sudah dikenal sejak dahulu oleh nenek moyang kita.Tokoh-tokoh dalam bentuk gambaran/ bayangan (wewayangan/ wayang), yang merupakan simbol kekuatan supranatural, disembah dan diberi sesajen sebagai bagian dari kepercayan yang dikenal dengan kepercayaan Animisme. Mereka percaya bahwa benda seperti pohon besar, gua, batu besar, dan tempat-tempat sunyi memiliki roh/ jiwa yang baik ataupun yang jahat.

Setelah kedatangan agama Hindu, tradisi wayang berubah fungsi dari prosesi penyembahan roh menjadi alat peraga untuk menyampaikan ajaran agama.Tradisi wayang masa Animisme tersebut kemudian beradaptasi dengan karya sastra India, di antaranya kakawin Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan tradisi dan budaya Indonesia. Salah satu pembeda adalah kemunculan punakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, tokoh penting dalam pewayangan yang hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak terdapat di India atau negara lain.”

“Penyebaran agama melalui kesenian wayang dilakukan pula oleh para penyebar ajaran Islam. Penggunaan wayang sebagai alat peraga dalam penyebaran agama Islam di Jawa dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Selanjutnya, ulama Islam mulai mewayangkan kisah para raja Jawa dengan memasukan ajaran dan nilai-nilai agama Islam ke dalamnya, sehingga cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan Mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu berlanjut hingga raja-raja di Pulau Jawa. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

Karya sastra lama tentang cerita wayang tertulis dalam bentuk naskah kuna yang banyak tersimpan di beberapa museum, perpustakaan, keraton, dan sebagai milik pribadi. Beberapa naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional kebanyakan ditulis di atas media kertas dan daun lontar. Pada umumnya, naskah wayang ditulis dalam bahasa Jawa, Bali, dan Sunda, namun ada juga yang ditulis dalam bahasa daerah lain, di antaranya dalam bahasa Melayu-Betawi menggunakan aksara Jawi. Beberapa naskah Melayu-Betawi ini awalnya merupakan koleksi taman bacaan rakyat milik keluarga Fadli di Langgar Tinggi, Pecenongan[…] “Jakarta Pusat. Menurut Chambert-Loir (lihat Hikayat Nakhoda Asik, 2009 : 247), berdasarkan catatan yang disusun oleh Muhammad Bakir untuk mengiklankan koleksi naskah pada taman  “bacaannya, diketahui bahwa terdapat lebih dari 70 judul naskah yang pernah disewakan. Salah satu iklannya terdapat pada naskah yang berjudul Wayang Pandu, yang menginformasikan bahwa tersedia 30 judul naskah yang dapat disewakan. Dari sekurangnya 70 judul naskah yang pernah disewakan, kini hanya tinggal 43 judul naskah saja, tersimpan di Perpustakaan Nasional sebanyak 27 judul, di Saint-Petersburg sebanyak 10 judul, dan di Leiden sebanyak 6 judul.

Di antara 27 judul naskah Melayu-Betawi yang tersimpan di Perpustakaan Nasional terdapat cerita wayang berbahasa Melayu-Betawi, antara lain berjudul: Wayang Arjuna, Wayang Pandu, Hikayat Agung Sakti, Hikayat Gelaran Pandu, Hikayat Pandawa Sakit, Maharaja Garebek Jagat, Hikayat Seri Rama, Syair Perang Orang Pandawa.” sumber:perpusnas.go.id (
Kumpulan Cerita Wayang Versi Pecenongan).